Teknik Reportase Berita

Jika Anda penulis SEO, Anda tidak akan bisa menuliskan apapun tanpa bantuan liputan (reportase) lapangan terhadap apa yang ingin Anda tuliskan. Anda tidak bisa menulis tentang keindahan pantai, kehandalan suatu gagdet, atau tidak bisa menulis kabar tentang sepak bola, jika tidak ada orang yang melakukan peliputan.

Artinya semua pekerjaan menulis di Internet, entah sebagai copywriting, blogger, atau penulis artikel mutlak membutuhkan para wartawan yang meliput menggunakan lima panca indera mereka, serta merasakan sendiri, merekamnya, menuliskannya, di lapangan. Para wartawan adalah ujung tombak dunia penulisan SEO pada umumnya.

Berkat kehandalan wartawan menemukan sudut (angle) berita yang menarik, maka artikel Anda bisa ikut menarik.  Namun, wartawan memiliki teknik tersendiri agar pemberitaan yang mereka sajikan bisa tersaji secara menarik. Sehingga apa yang mereka laporkan cenderung memiliki karakter kisah yang bisa dikembangkan lebih jauh.

Apa yang membuat wartawan bisa meliput hal yang menarik serta akurat? Berikut tekniknya.

1. Menulis Berdasarkan Nilai Berita

Nilai berita adalah hal utama yang wajib menjadi standar peliputan. Nilai berita ini antara lain : Proksimitas, Magnitude, Efek, Ketokohan, serta Human Interest. Berita akan menjadi dirasakan penting jika peliput memahami nilai suatu berita. Dalam hal ini berlaku kaidah penting. “Macan digigit manusia lebih menarik, dari Macan menggigit manusia”

2. Menulis Untuk Meluaskan Informasi

Terkadang apa yang dituliskan di banyak media sangatlah kurang karena keterbatasan kolom, atau panjang kata. Rata-rata satu kolom artikel hanya memuat 300-500 kata terhadap suatu peristiwa atau informasi mengenai suatu hal. Oleh karena itulah, masih banyak yang bisa digali dari suatu peristiwa dan informasi tersebut.

Penggalian berita akan menampilkan kembali apa yang kurang dari penceritaan yang telah beredar. Misalkan, kisah tentang danau kelimutu, bisa disajikan dari selayang pandang warna danau yang atraktif. Namun pada reportase lain bisa disajikan hasil penelitian ilmiah mengapa danau itu bisa berwarna-warni, dst.

3. Meliput Orang yang Tepat

Suatu peristiwa terkait orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam hal ini seorang peliput mesti mendapatkan nara sumber utama, yakni orang yang terlibat langsung terhadap suatu peristiwa. Jika dia tidak mampu mendapatkan nara sumber utama, maka dia setidaknya harus mampu mendapatkan narasumber sekunder, atau saksi mata.

Jangan sampai meliput orang yang hanya ikut mendengar dari orang lain, kerena keakuratan berita akan menjadi lemah, terkena distorsi informasi. Serta dilarang penuh melakukan persekongkolan dengan narasumber untuk melebihkan berita yang terjadi agar terkesan bombastis.

4. Melakukan Riset Pustaka

Kegiatan jurnalistik bermula dari Acta Diurna, atau pengumuman tribunal oleh para senat Romawi kuno. Segala yang diumumkan tercatat dalam tablet batu terukir, di mana tablet itu tersimpan rapih dalam perpustakaan agar orang dapat belajar dari pengalaman masa lalu. Dalam hal ini peliputan juga membutuhkan riset pustaka sebelum benar-benar ke lapangan.

Artinya wartawan peliput mengetahui dasar-dasar peliputan, apa yang hendak ditanyakan pada narasumber, apa saja yang mesti dicari, digali, diinformasikan, karena secara sistematis telah disusun sebelumnya. Riset pustaka ini sangat bermanfaat bagi rapat redaksi, di mana media akan menentukan apa saja yang dilakukan para wartawannya.

5. Mentalitas Hantam Kromo

Wartawan peliput tidak punya rasa malu, sungkan, enggan, atau ogah-ogahan. Mereka merupakan pribadi gigih yang akan menghentikan siapapun untuk bertanya, ditanyai, diinterogasi. Bahkan beberapa wartawan melakukan tindakan nekat dengan menerobos pagar, menyelinap masuk, agar bisa mendapatkan berita berharga.

Wartawan juga tidak kenal ruang waktu, pada saat orang khidmat upacara mereka bergerak bebas mengambil gambar, pada saat perang peluru berseliweran mereka bergerak lebih berani dari para tentara, pada saat orang tertidur mereka membangunkannya untuk mendapatkan informasi. Keberanian itulah yang menyajikan reportase berkualitas.

Beberapa wartawan bahkan memiliki teknik sendiri, misalkan ada yang mengandalkan informan rahasia, atau yang disebut sebagai sumber anonim. Misalkan sumber dengan kode Deep Throat yang terkenal, sumber anonim Washington Post yang membongkar skandal politik yang membuat Presiden AS, Richard Nixon jatuh dari jabatannya.

Baca Juga: Cara Menjadi Penulis Artikel Online

Terpenting dari segala upaya ini, adalah akurasi berita. Akurasi dapat diartikan sebagai berita yang benar, tidak terbantahkan, karena memiliki bukti yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum maupun moral. Sehingga upaya peliputan yang tampak sederhana, sebenarnya menanggung tanggungjawab yang sangat besar.

Tinggalkan komentar