Mau Startup Bangkit saat New Normal? Kenali Pain Point-nya!

Mulai saat ini setiap orang di dunia akan beraktivitas dengan protokol “new normal.” Dalam bisnis, istilah ini mulai dipakai saat resesi global pada 2008-2012. Namun, sekarang Kita memiliki masalah baru, yakni Covid-19.

Virus yang memakan ratusan ribu nyawa manusia dan melumpuhkan ekonomi dunia ini telah memaksa Kita untuk hidup dengan cara baru, termasuk bagaimana cara Kita berbisnis. Ini tentu akan menjadi pukulan besar bagi startup yang pada umumnya memiliki sistem dan finansial yang kurang kuat.

BEKRAF pada 2019 lalu memaparkan bagaimana lemahnya startup di Indonesia. Ada tiga problem, yakni produk monoton, tenaga ahli kurang, dan pendanaan lemah. Startup Indonesia faktanya gagal mengenai pain point pada bisnis di era industri 4.0 ini.

Lalu sebenarnya apa itu pain point, dan apa hubungannya dengan protokol new normal yang segera akan Kita jalani untuk satu, dua, atau bahkan 10 tahun ke depan.

Apa itu Pain Point?

Secara sempit, pain point sering diartikan sebagai problem atau masalah pada bisnis. Hal ini sangat mungkin mengarahkan perusahaan pada kegagalan dalam profit. Perusahaan besar umumnya memiliki divisi dan SOP manajemen risiko untuk mengantisipasi banyak hal.

Lalu bagaimana dengan startup?, perusahaan rintisan memang memiliki tipikal grow rapidly and create significant profit, namun memiliki sistem yang belum matang. Ini adalah salah satu pain point dari startup, selain tiga hal yang disebutkan di awal.

Startup Indonesia yang cenderung mengikuti arus dan tren bisnis, bisa jadi adalah pain point paling fatal dari semuanya selama new normal. Sebab, orang akan memiliki “pilihan terbatas” yang lebih banyak dari sebelumnya. Pada saat resesi, orang secara alami akan menahan diri dalam belanja, termasuk juga perusahaan.

Pain point lain adalah pendanaan, kredit perbankan, dan investasi akan menjadi lebih sulit. Hingga Februari lalu, nilai investasi pada startup Indonesia telah turun sebanyak 40% dibanding periode sebelumnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh isu Covid-19 dunia yang bahkan belum menyentuh Indonesia.

New Normal Menumbuhkan Pain Point Baru

Salah satu masalah terbesar pada dunia bisnis adalah ketidakpastian, terutama untuk startup. Penerapan protokol kehidupan baru selama new normal tentu saja akan menjadi problem serius. Sebab akan ada budaya, kebiasaan, sistem, dan pain point baru.

Namun, new normal bisa disebut juga sebagai new opportunity. Jim P. Liautaud, seorang industrialist dan business theorist pernah menyampaikan,” pain point yang diselesaikan terkadang tidak menyelesaikan masalah, tetapi menciptakan pasar baru.

Beliau mencontohkan bagaimana perusahaan game Zynga mengembangkan permainan saat smartphone cukup banyak digunakan untuk time killing. Zynga berhasil membidik dan menguasai pasar game smartphone pada masanya yang belum pernah dilakukan oleh pengembang lain, dan pasar masih fokus pada game konsol atau pc.

“Inovatif dalam cara mengeksekusi masalah, dan menciptakan nilai dengan membuat pasar yang belum pernah ada”, katanya. Ini adalah tantangan besar bagi pengusaha startup untuk menciptakan produk dan pasar baru. Contoh bagus dari Gojek yang berhasil mendobrak stagnasi bisnis transportasi di Indonesia.

Startup : Be Innovative, Be Progressive!

Pain point dalam bisnis juga sering diartikan sebagai “identifying opportunity.” Untuk dapat bangkit dan kembali bersaing di pasar “new normal”, startup dituntut untuk bekerja keras dalam menciptakan hal baru di “ladang bisnis” baru.

Startup harus bisa se-inovatif mungkin dalam hal produk dan layanan. BCA Bank misalnya, mereka baru saja merilis bank digital pertama di Indonesia. Perusahaan perbankan ini jelas membidik pasar yang muncul saat physical and social distancing yang menjadi salah satu protokol new normal.

Perusahaan dan startup lain mungkin akan mengikuti langkah BCA. Akan tetapi, pasar dibidang bank digital terlanjur menjadi milik BCA. Mereka telah siap dengan sistem, dan segala hal yang dibutuhkan jika dibandingkan dengan kompetitor yang masih meraba kondisi pasar tersebut.

Startup sejatinya dimunculkan untuk membuat sesuatu yang anti-mainstream, dan dapat menyelesaikan masalah serta menutup celah sistem yang telah ada. Untuk saat seperti inilah progresivitas startup dibutuhkan.

New Normal, New World, New Business

Satu hal yang pasti, sejak kemunculan covid-19 sangat mungkin kehidupan tidak akan kembali seperti sebelumnya. Manusia akan mencari cara lain untuk bertahan hidup, bahkan jika itu harus berdamai dengan diri sendiri. Cara hidup baru ini akan menciptakan dunia baru.

Jack Ma, dalam sebuah seminar pernah mengatakan, “Kita akan hidup dengan cara berbeda saat era data technology tiba, bisnis akan lebih mobile dan tidak terpaku pada satu tempat.” Kata-kata Jack Ma sangat mewakili bagaimana orang hidup dan berbisnis di era new normal, dan di masa depan.

Perubahan dunia akan menghilangkan beberapa hal, tetapi akan menciptakan lebih banyak kesempatan atau opportunity. Kebutuhan baru akan menciptakan ladang bisnis baru. Karena itulah, ini akan menjadi peluang emas untuk startup yang memiliki fleksibilitas sistem.

Jadi itulah beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh startup saat “new normal” benar-benar diberlakukan. Untuk pergi pergi ke medan tempur persaingan bisnis global, satu hal yang dipersiapkan oleh startup Indonesia adalah “mengenali diri sendiri, baik dan buruknya.” Bantuan modal dan investasi belaka tidak akan mengubah situasi.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Artikel Terkait

Tinggalkan komentar

Subscribe Guys

Dapatkan update artikel terbaru & penawaran menarik dari Saungwriter.com