Perubahan Watak Jurnalisme Lama Ke Jurnalisme Online

Masa depan penulisan adalah penulisan online. Begitupun, masa depan jurnalisme adalah jurnalisme online. Hal ini telah diprediksi oleh Alvin Toffler dalam bukunya Gelombang Ketiga, walau dia tidak dengan tepat memastikan medium apa yang digunakan di abad informasi. Dia hanya menyebutkan kata komputer.

Sementara itu, alamat internet berupa www masih berupa konsep pada, saat orang mulai menulis format penulisan digital mereka dalam bentuk koran disket. Cakupan informasi dalam sebentuk disket atau dalam bentuk dossier (hasil foto dokumen digital, yang awalnya berbentuk mikrofilm). Sampai akhirnya muncul media digital pertama yang dimulai pada 1994.

Jurnalisme Lama Ke Jurnalisme Online

Walau begitu, hingga pada 2019 ini dunia jurnalisme “resmi” pada umumnya, relatif ketinggalan jauh. Di kampus-kampus para mahasiswa masih belajar teori lama, yakni teori membuat berita koran. Mereka masih diajarkan menulis untuk menjadi penulis media cetak. Ilmu jurnalistik yang di ajarkan juga masih kurikulum tahun 1950-an.

Era Buzzer, Blogger

Tidak heran, hasil karya jurnalisme online yang serius mengikuti kaidah pers, kalah jauh gaungnya dari hasil karya para blogger amatiran. Khalayak media juga lebih percaya pada para buzzer, influencer, blogger, dibandingkan media massa online yang mengerahkan wartawan ke lapangan. Mengapa hal ini terjadi?

Padahal, para buzzer, blogger, influencer itu justru bergantung pada peliputan para jurnalis yang dituangkan di media massa masing-masing, para buzzer, influencer, blogger itu tidak memiliki wartawan sendiri yang turun ke lapangan, mereka mengkopas hasil berita media online, melakukan copywriting, menulis ulang, melalui framing media versi mereka sendiri.

Tapi, karena itulah. Karena mereka lebih kreatif pengemasannya, maka mereka lebih bisa menarik minat pembaca. Para amatiran itu  lebih pandai menata kata dalam format lebih modern, yang tidak perlu terikat kaidah-kaidah ketat, sehingga khalayak lebih memilih membaca “liputan” para buzzer dibanding membaca format liputan berita asli, yang rigid serta membosankan.

Apakah Para Buzzer itu Jurnalis?

Bisa dikatakan bahwa para buzzer, blogger, influencer, telah menemukan teori jurnalisme mereka sendiri. Telah menasbihkan teknik editing berita yang sesuai dengan semangat zaman online. Sehingga dapat dikatakan, ya, mereka telah mempraktikan jurnalisme. Walau banyak kritik bahwa mereka bukan jurnalis sebenarnya.

Justru kritik itu harus ditujukan kepada para jurnalis “asli” yang sudah capek-capek meliput di lapangan, namun tidak mampu membuat tulisan yang menarik untuk para pembaca online. Walau memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena kampus-kampus jurnalisme tidak menyiapkan mereka untuk menjadi penulis online.

Bahkan jika Anda bertanya pada dosen jurnalistik beberapa keyword dalam penulisan online seperti apa arti dari SEO? Apa yang dimaksud plagiarism checker? Apa itu web crawler? Saya jamin mereka tidak akan tahu artinya. Mereka hanya tahu arti kolom, kolumnis, features, straight news, yang sudah jarang digunakan di era online.

Ramai-ramai Mengejar Sensasionalitas Berita

Saat ini, beberapa media online lokal juga telah menyadari bahwa para blogger telah menemukan teori jurnalistik yang tepat di era online. Sehingga media besar seperti Kompas, Detik, Merdeka, tidak malu ikut mempraktikan apa yang telah para blogger capai. Bahkan para periset di media besar berhasil memadukan konsep lama penulisan jurnalisme dengan jurnalisme ala blogger.

Artinya. Straight news, atau berita langsung dalam format 5 W (apa, kenapa, siapa, di mana, kapan) + 1 H (bagaimana), dapat dipadukan dengan gaya penulisan serba bombastis dan sensasional ala buzzer. Media massa besar juga tidak malu mempermasalahkan hal remeh temeh, hingga berlarut-larut, yang sebelumnya jadi monopolinya para buzzer. Misalkan berita ini :

Perubahan Watak Jurnalisme Lama Ke Jurnalisme Online 1

Pernah di eranya, berita ini tidak akan lolos editor media cetak, karena disebut tidak penting, remeh-temeh, menghabiskan kolom untuk berita penting lain. Tapi, untuk media online berita di atas tersebut bernilai emas. Bahwa para wartawan di minta untuk melakukan konsolidasi peliputan terkait hal remeh temeh, dengan memperluasnya.

Artinya, wartawan di media tersebut, sengaja melakukan teknik jurnalistik yang dinamakan “Appeal to Authority” penggunaan pakar, namun pada era online, trik itu malah ditujukan untuk membuat berita yang remeh temeh.

Bagaimanapun, dalam ilmu jurnalistik, status kewarganegaraan Agnez Monica, tidak akan berpengaruh pada siapapun. Bukan peristiwa penting. Serta bukan bagian pers sebagai 4th State. Anjing penjaga demokrasi. Pers tidak perlu bahkan dilarang mengangkat berita ringan sebagai headline.

Tapi sekali lagi, inilah jurnalisme online. Inilah yang penting. Karena memiliki nilai jurnalisme yang tinggi yang dinamakan proximity. Proxymity artinya kedekatan. Pembaca atau khalayak merasa dekat dengan pengalaman berita ini. Karena bisa mereka debatkan dalam kolom komentar. Ikut berkomentar adalah ciri dari abad informasi. 

Baca Juga:

Oleh karena itulah, para wartawan di era online ini, diminta meliput segala jenis hal yang mampu membawa debat publik. Tujuan bermedia, tujuan jurnalisme di era online saat ini adalah membuat orang berkelahi di kolom komentar. Karena para pembaca yang berkelahi di kolom komentar, memiliki tingkat bounce rate page yang rendah. Media jelas untung dari perkelahian para netizen ini.***

Anda butuh jasa penulis artikel? hubungi kami.

Tinggalkan komentar