Jurnalisme Damai, Porsi Jurnalisme Yang Dibutuhkan di Indonesia

Jurnalisme Damai

Kredo bad news is good news, atau kabar yang buruk adalah kabar yang sangat bagus di suatu masa berevolusi menjadi conflict news is better news, kabar tentang perselisihan adalah kabar yang lebih baik lagi. Hal ini, lama kelamaan membuat masyarakat terbelah, terpolarisasi, hingga pada akhirnya menghancurkan ikatan nasionalisme.

Mengapa orang menyukai segala jenis kabar tentang perselisihan? Sederhananya karena pada prinsipnya manusia senang memihak. Mereka senang memilih apa yang menurut mereka keren, wow, sehingga pada akhirnya menjadi bagian atau terlibat berpihak, pada suatu banner yang menurut mereka wow. Sisi fans pada tim sepak bola contohnya.

Jadi, konflik dapat membangun persaingan antar kelompok seperti antar kelompok dalam suporter sepak bola. Di mana para pendukung konflik tidak ubah sebagai fans sepak bola, bahkan bersedia mati, berkelahi, serta saling menyakiti sebagaimana sisi hooliganisme dalam sepak bola.

Yang menyedihkan, konflik kebanyakan ditumbuhkan oleh media massa. Api konflik di pelihara, dibakar, dikompori, setiap hari oleh media massa.

Misalkan, kisah pembantaian jutaan suku Tutsi oleh suku Hutu di Rwanda Afrika, awalnya dikompori oleh pengabaran radio yang melecehkan suku Tutsi sebagai kecoak. Lambat laun, suku Tutsi benar-benar di anggap kecoak, tidak lagi dianggap manusia, karena media massa telah berhasil melakukan dehumanisasi pada suku Tutsi.

Bagaimana di Indonesia?

Tidak jauh berbeda. Di Indonesia saat ini berseliweran istilah yang identik yang menjadi sumber konflik di Rwanda. Yakni penyebutan kampret dan cebong, lalu penyebutan kadal gurun. Julukan binatang pada sekelompok manusia yang tidak satu afiliasi politik, sama persis seperti di Rwanda, di mana lambat laun, nyawa dari kelompok yang lebih minoritas tidak lagi dianggap berharga.  

Sejauh ini media yang selalu mengobarkan konflik berkaitan dengan julukan cebong, kampret, atau kadal gurun, masih terbatas pada media buzzer. Sangat terbatas karena mereka bersuara untuk kelompok masing-masing. Sementara, media massa umum, tengah berusaha keras polarisasi di masyarakat tidak menyebar luas.

Namun, hal ini tetap mengkhawatirkan, karena adanya Sosial Media, membuat media umum tidak lagi efektif untuk membendung penetrasi media yang masih partisan pada suatu kelompok tertentu.

Media umum, bertahan dalam konsep Jurnalisme damai. Yakni jurnalisme yang memilih mengurangi tone konflik. Pada saat media buzzer ramai-ramai saling melakukan dehumanisasi, media umum mencoba menyudahinya. Artinya, Indonesia masih punya harapan untuk tidak jatuh dalam perang saudara seperti di negara di mana media umum malah mengobarkan saling permusuhan.

Langkah-langkah Dalam Jurnalisme Damai

Apa itu persisnya Jurnalisme Damai. Jurnalisme damai adalah jurnalisme yang mencoba sekuat tenaga menghilangkan sekat perbedaan di masyarakat, mencoba mengatasi jurang perbedaan antara kelompok yang bertikai, serta mengajukan resolusi agar masing-masing kelompok bisa berkerja sama.

Langkah-langkah yang dilakukan para editor media yang melakukan advokasi jurnalisme damai antara lain :

  1. Melakukan riset atau penelusuran latar belakang dan konteks pembentukan konflik, menyajikan penyebab dan opsi yang menguntungkan di setiap kelompok (bukan hanya satu dari kedua belah pihak’);
  2. Memberikan kolom suara agar pandangan semua pihak yang bersaing,  berkonflik dari semua tingkatan dapat didengar. Masing-masing pihak melihat apa yang menjadi keluhan masing-masing kelompok.
  3. Menawarkan ide-ide kreatif untuk resolusi konflik, pengembangan, penciptaan damai serta pemeliharaan kedamaian di masyarakat;
  4. Mendorong masing-masing kelompok untuk menjadi masyarakat alternatif, yakni masyarakat yang tidak mau terjadi pertikaian serta tidak memihak satu kelompok (netral).
  5. Mengungkap segala penyebaran hoax/kebohongan, dari para buzzer serta media buzzer/blogger, serta mendorong kedua belah pihak yang bertikai bahwa mereka selama ini mendapatkan asupan berita yang salah, yang saling memecah belah.
  6. Memperlihatkan kisah-kisah penderitaan perang (anti war movement), agar masing-masing kelompok mampu merefleksikan diri, serta mendorong saling damai.

Akan halnya, kadangkala media massa umum bersikap ambigu. Mereka memberitakan hal negatif yang dapat dimanfaatkan para buzzer untuk membakar kelompok masing-masing. Walau sekian banyak berita terkait para politisi adalah penting, namun suatu media harus mampu berhati-hati agar berita mereka tidak dibajak oleh para buzzer di sosial media.

Ada kalanya, media harus berhenti memberitakan kejelekan satu tokoh politik yang menjadi patron masing-masing kelompok yang bertikai. Media harus mampu membaguskan semua tokoh politik agar terlihat bahwa setiap tokoh politik yang dijadikan patron pihak yang bertikai memiliki sisi baik.

Walau hal ini menggerus independensi, serta tanggungjawab moral mengungkap praktik penyelewengan kekuasaan, sehingga formulasi yang tepat terkait pemberitaan tokoh politik yang menjadi patron, yang tengah berkuasa, harus ditangani dengan memperhatikan bahwa ada kekuatan buzzer di balik para tokoh ini.

Baca juga:

Jangan buat pemberitaan yang bisa diselewengkan para buzzer untuk terus memantik konflik di masyarakat. Itu kunci dari jurnalisme damai di era sosial media.***

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Artikel Terkait

Tinggalkan komentar

Subscribe Guys

Dapatkan update artikel terbaru & penawaran menarik dari Saungwriter.com